Thursday, 23 February 2017

Motivasi Dalam Pekerjaan

DUA2022 - PENGURUSAN DALAM ISLAM

NAMA JABATAN : JABATAN PERDAGANGAN 
PROGRAM : DIPLOMA PERAKAUNAN
KELAS : DAT2C
NAMA PENSYARAH : PUAN WAHIDAH BINTI MAT SAID
AHLI KUMPULAN : 
MUHAMMAD LUQMAN BIN ADNAN (02DAT16F1048)
MUHAMMAD AQIL ARFAN BIN ABDUL AZIZ (02DAT16F1104)
MOHAMMAD AMIRUL BIN ABDULLAH (02DAT16F1086)
MOHAMMAD ARIFF BIN NADZIRI MOHD NADZIRI (02DAT16F1066)
SHAMIRUL DANIEL BIN AZAHAR (02DAT16F1075)
MUHAMMAD AMIN BIN CHE RAZALI (02DAT16F1036)
MUHAMMAD AMIRUL ASYRAF BIN BASRI (02DAT16F1006)
SYED MUHAMMAD AMIRUL AIMAN BIN SYED MUHD ARIFF (02DAT16F1072)




Assalamualaikum Ahlan Wasahlan Marhaban Bikum

Manusia adalah homo faber (makhluk bekerja). Dengan bekerja manusia menyatakan eksistensinya dalam kehidupan masyarakat. Menurut Islam, kerja merupakan sesuatu yang digariskan bagi umat manusia. Bekerja adalah sesuai dengan kodratnya sekaligus menjadi cara untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat, lahir dan batin. Ajaran Islam mendorong semua orang supaya berusaha sungguh-sungguh untuk menguasai pekerjaannya. Dengan demikian, setiap muslim tidak dapat dipisahkan dengan kerja, dengan kerja berarti ia menjunjung martabat kemanusiaannya. Setiap muslim akan kehilangan martabat kemanusiaannya bila tidak mau bekerja.



Tinggi atau rendahnya kualitas hidup seorang muslim ditentukan oleh amal atau kerjanya. Hal ini ditegaskan dalam Q.S. Al-Aḥqāf [46] : 19.
Artinya : Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan.
 Ayat di atas dapat dipahami bahwa amal atau kerja mempunyai makna eksistensial dalam hidup dan kehidupan seorang muslim. Tidak diragukan lagi, betapa banyak ayat-ayat al-Quran yang mendorong umat Islam untuk rajin bekerja.
Selain al-Quran, dalam hadits nabi juga ditemui penegasan agar umat Islam rajin bekerja, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kamu berusaha, maka oleh karena itu hendaklah kamu rajin berusaha”.
Bekerja bagi seorang muslim merupakan suatu kewajiban, karenanya pengerahan semua aset, pikir dan zikir mesti dikerahkan. Secara hakiki, bekerja bagi seorang muslim memiliki nilai ibadah. Yusuf al-Qardhawi mengungkapkan bahwa bekerja adalah bagian dari ibadah. M. Quraish Shihab menambahkan supaya kerja yang dilakukan seseorang memiliki nilai ibadah maka harus disertai dengan keikhlasan.
Pengertian Motivasi             
Motif sering juga diartikan dengan istilah dorongan. Dorongan atau tenaga tersebut merupakan gerak jiwa dan jasmani untuk berbuat lebih maju. Jadi motif tersebut merupakan suatu driving force yang menggerakkan manusia untuk bertingkah-laku, dan di dalam perbuatannya itu mempunyai tujuan tertentu. Setiap tindakan yang dilakukan oleh manusia selalu di mulai dengan motivasi (niat). Motivasi menurut para ahli: *Menurut Wexley & Yukl (1987) motivasi adalah pemberian atau penimbulan motif, dapat pula diartikan hal atau keadaan menjadi motif. *Sedangkan menurut Mitchell (2002) motivasi mewakili proses-proses psikologikal, yang menyebabkan timbulnya, diarahkanya, dan terjadinya persistensi kegiatan- kegiatan sukarela yang diarahkan ke tujuan tertentu. *Sedangkan menurut Gray (2002) motivasi merupakan sejumlah proses, yang bersifat internal, atau eksternal bagi seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi, dalam hal melaksanakan kegiatan- kegiatan tertentu. Teori Motivasi menurut para Ahli – Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat presentasi dan entusiasmenya dalam melaksanakan sesuatu kegiatan,baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun motivasi luar individu (motivasi ekstrinsik).

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi

Motivasi seseorang sangat dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu : a. Faktor Internal: Faktor yang berasal dari dalam diri individu, terdiri atas: Persepsi individu mengenai diri sendiri Seseorang termotivasi atau tidak untuk melakukan sesuatu banyak tergantung pada proses kognitif berupa persepsi. Persepsi seseorang tentang dirinya sendiri akan mendorong dan mengarahkan perilaku seseorang untuk bertindak. Harga diri dan prestasi Faktor ini mendorong atau mengarahkan inidvidu (memotivasi) untuk berusaha agar menjadi pribadi yang mandiri, kuat, dan memperoleh kebebasan serta mendapatkan status tertentu dalam lingkungan masyarakat, serta dapat mendorong individu untuk berprestasi. Harapan Adanya harapan-harapan akan masa depan. Harapan ini merupakan informasi objektif dari lingkungan yang mempengaruhi sikap dan perasaan subjektif seseorang. Harapan merupakan tujuan dari perilaku. Kebutuhan Manusia dimotivasi oleh kebutuhan untuk menjadikan dirinya sendiri yang berfungsi secara penuh, sehingga mampu meraih potensinya secara total. Kebutuhan akan mendorong dan mengarahkan seseorang untuk mencari atau menghindari, mengarahkan dan memberi respon terhadap tekanan yang dialaminya. Kepuasan kerja. Lebih merupakan suatu dorongan afektif yang muncul dalam diri individu untuk mencapai goal atau tujuan yang diinginkan dari suatu perilaku. b. Faktor Eksternal: Faktor yang berasal dari luar diri individu, terdiri atas: Jenis dan sifat pekerjaan Dorongan untuk bekerja pada jenis dan sifat pekerjaan tertentu sesuai dengan objek pekerjaan yang tersedia akan mengarahkan individu untuk menentukan sikap atau pilihan pekerjaan yang akan ditekuni. Kondisi ini juga dapat dipengartuhi oleh sejauh mana nilai imbalan yang dimiliki oleh objek pekerjaan dimaksud. Kelompok kerja dimana individu bergabung Kelompok kerja atau organisasi tempat dimana individu bergabung dapat mendorong atau mengarahkan perilaku individu dalam mencapai suatu tujuan perilaku tertentu; peranan kelompok atau organisasi ini dapat membantu individu mendapatkan kebutuhan akan nilai-nilai kebenaran, kejujuran, kebajikan serta dapat memberikan arti bagi individu sehubungan dengan kiprahnya dalam kehidupan sosial. Situasi lingkungan pada umumnya Setiap individu terdorong untuk berhubungan dengan rasa mampunya dalam melakukan interaksi secara efektif dengan lingkungannya. Sistem imbalan yang diterima Imbalan merupakan karakteristik atau kualitas dari objek pemuas yang dibutuhkan oleh seseorang yang dapat mempengaruhi motivasi atau dapat mengubah arah tingkah laku dari satu objek ke objek lain yang mempunyai nilai imbalan yang lebih besar. Sistem pemberian imbalan dapat mendorong individu untuk berperilaku dalam mencapai tujuan; perilaku dipandang sebagai tujuan, sehingga ketika tujuan tercapai maka akan timbul imbalan.

Manfaat Motivasi

Motivasi sangat bermanfaat untuk membangkitkan seseorang dari keterpurukannya. Motivasi gampang dicari tergantung bagaimana kita menyikapi keadaan sekitar. Motivasi bisa diciptakan kita sendiri dan orang lain. Agar termotivasi sendiri, seseorang harus terinspirasi oleh sesuatu terlebih dahulu. Menjadi sukses bukanlah hal gampang tetapi, orang-orang yang penuh dengan inspirasi dan motivasilah yang akan mencapai puncak kesuksesan. Percayalah,manfaat motivasi sungguh luar biasa! Untuk menjadi pribadi yang berpikir sukses,anda butuh seorang motivator yang berpengalaman! Ikuti seminar, dan hal positif lainnya, maka anda bisa terinspirasi dan termotivasi.


Hukumnya Wajib

Mencari rezeki yang halal dalam agama Islam hukumnya wajib. Ini menandakan bagaimana penting mencari rezeki yang halal. Dengan demikian, motivasi kerja dalam Islam, bukan hanya memenuhi nafkah semata tetapi sebagai kewajiban beribadah kepada Allah setelah ibadah fardlu lainnya.

Mencari rezeki yang halal adalah wajib sesudah menunaikan yang fardhu (seperti shalat, puasa, dll). (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)

Perlu diperhatikan dalam hadist di atas, ada kata sesudah. Artinya hukumnya wajib sesudah ibadah lain yang fardhu. Jangan sampai karena merasa sudah bekerja, tidak perlu ibadah-ibadah lainnya. Meski kita bekerja, kita tetap wajib melakukan ibadah fardhu seperti shalat, puasa, ibadah haji, zakat, jihad, dan dakwah. Jangan sampai kita terlena dengan bekerja tetapi lupa dengan kewajiban lainnya.

Jadi, tidak ada kata malas atau tidak serius bagi seorang Muslim dalam bekerja.Motivasi kerja dalam Islam bukan semata mencari uang semata, tetapi serupa dengan seorang mujahid, diampuni dosanya oleh Allah SWT, dan tentu saja ini adalah sebuah keajiban seorang hamba kepada Allah SWT.


Faktor-faktor dari dalam diri sendiri(Intern). 

1. Kecerdasan 
Kecerdasan memegang peran penting dalam berhasil tidaknya seseorang melaksanakan tugas-tugasnya. Dalam pengertian : tambah sulit dan majemuk suatu tugas bertambah tinggi kecerdasan di bawah normal hanya cocok bagi pekerjaan sederhana yang rutin. Apabila seseorang yang cerdas merasa bosan, tidak puas, bahkan menderita. Keadaan ini mengakibatkan prestasi rendah, muncul kegagalan, dan akhirnya dia keluar dari pekerjaannya. Mereka akan lebih berhasil bila mendapatkan tugas-tugas yang lebih sulit dan majemuk. 
 
2. Keterampilan 
Sering kali kita melihat seseorang berhasil di suatu bidang atau usaha. Lalu kita ikut-ikutan dalam bidang tersebut, meskipun kita tidak menyukainya, akhirnya tidak akan berhasil. Kita hanya melihat dia berhasil, tetapi tidak melihat prosesnya dia sampai berhasil. Dalam menjalankan proses inilah yang memerlukan ketrampilan dan kecakapan. Untuk berhasil dalam usaha, kerja, atau kehidupan, kita tidak perlu meniru-niru, karena kita melihat banyak orang yang berhasil dalam hidupnya di berbagai macam bidang. Sebab ketrampilan dan kecakapan orang berbeda-beda. Seseorang dapat cakap dan trampil sekali dalam seni pahat dan ukir-mengukir, tetapi sama sekali tidak cakap dan tidak berdaya menghadapi soal-soal teknik dan industry. 
 
3. Bakat. 
Langkah pertama yang perlu dilakukan sebelum kita mempunyai pekerjaan tetap atau meneruskan belajar ialah : menemukan bakat yang ada dalam diri sendiri dan mempraktekkannya. Banyak orang terpaksa menjalankan tugasnya yang tidak sesuai dengan bakatnya, baik karena mereka tidak mengetahui bakat apa yang sesungguhnya ada dalam dirinya, maupun juga karena tempat kerja yang sangat terbatas. Sehingga mereka terpaksa memasuki suatu pekerjaan yang tidak sesuai dengan bakat mereka. Akibatnya banyak diantara mereka yang gagal ditengah jalan, atau tidak berhasil didalam bekerja. Dengan bekerja manusia dapat mengembangkan bakat dan kemampuan yang ada dalam dirinya. Oleh sebab itu sebagai orang yang ingin mencapai aktualisasi-diri dan bekerja sesuai dengan pilihan dan keahlian masing-masing, maka bakat perlu diperhatikan. Persesuaian antara bakat dan pilihan pekerjaan yang dilakukan, akan menjadikan seseorang dengan baik, giat, produktif dan sekaligus dapat menghayati makna kerja yang dilakukannya. 
 
4. Kemampuan dan minat. 
Seseorang yang tidak suka kepada pekerjaannya atau tidak berminat pada pekerjaannya, tidak akan mendapatkan hasil yang baik meskipun kemampuan untuk mengerjakan ada. Oleh karena itu kita harus mengetahui apakah kemampuan dan minat kita harus mengetahui betul-betul kemampuan dan minat kita terhadap sesuatu pekerjaan tertentu. Syarat untuk mendapatkan ketenangan kerja bagi seseorang adalah : tugas dan jabatan yang dipegangnya harus sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Tugas dan jabatan yang tidak sesuai dengan kemampuan dan minat banyak memberikan hambatan bagi kesuksesan dalam kerja. 

Hal ini juga menimbulkan ketegangan yang sering menjelma dalam sikap dan tingkah laku agresif, terlalu banyak kritik dan memberontak. Kemampuan yang disertai dengan prestasi tinggi dapat mengembangkan minat; sedang minat akan menyokong perkembangan kemampuan lebih lanjut. Usahakan supaya dapat mengembangkan minat kita terhadap pekerjaan yang kita jalankan, sampai kita mencintai pekerjaan itu. Ini berarti bahwa : kita perlu mencari atau memilih pekerjaan yang betul-betul kita minati. Atau, pada permulaannya mungkin kita hanya dihadapkan pada pekerjaan yang ada; maka usaha kita adalah menumbuhkan rasa senang terhadap pekerjaan itu. Bila usaha ini digiatkan secara tekun, rasa senang akan perlahan-lahan timbul; dan sejak saat itu pula minat kita akan mulai timbul dan mendorong kita untuk tidak mudah menjadi capai dan lelah. Dalam bekerja kita menjadi lincah dan bersungguh-sungguh hendak menyelesaikan pekerjaan itu, maka dengan sikap yang demikian orang akan senang terhadap kita. Ini dapat dijadikan pangkal tolak daripada keberhasilan kita dalam bekerja. 

5. Motivasi dalam mencapai keberhasilan kerja, perlu adanya motif-motif sebagai berikut : 
a. Motif untuk kreatif, yaitu selalu cenderung mencari sesuatu yang baru, sesuatu yang lain daripada yang lain. 
b. Motif mencapai efisiensi,mencakup efisiensi kerja dan waktu. 
c. Motif mencapai sesuatu, bukan hanya gaji, tetapi mempunyai harapan untuk bisa mencapai sesuatu, untuk bisa mencapai jenjang karier yang lebih tinggi, juga mencari dan menambah ketrampilan kerja guna meraih pekerjaan yang lebih baik. 
d. Motif bekerja : adanya kesadaran bahwa orang hidup harus bekerja untuk hidup. 

6. Kesehatan. 
Di dalam bekerja semboyan Men sana in corpore sano (dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat) adalah sangat berguna. Kesehatan sangat membantu proses kerja seseorang dalam menyelesaikan segala tugas-tugasnya. Jika kesehatan terganggu, maka pekerjaan pun juga terganggu. Sehingga memelihara dan menjaga kesehatan kita sebaik-baiknya adalah langkah yang berguna dalam mendaki jenjang keberhasilan kerja kita. 

7. Kebutuhan psikologis. 
Hal ini berhubungan dengan kehidupan emosional seseorang. Meskipun seseorang sudah terpenuhi kebutuhan materialnya, tetapi bila kebutuhan psikologis tidak terpenuhi, maka dapat mengakibatkan dirinya merasa tidak senang dengan kehidupannya. Kerja merupakan salah satu kegiatan di dunia ini, sehingga kebutuhan psikologis harus terpenuhi agar kehidupan emosinya menjadi stabil. Sebagian besar dari waktu juga dihabiskan orang untuk kegiatan. Sehingga penting bagi seseorang untuk mendapatkan kebutuhan-kebutuhan psikologis ini. Misalnya : Apakah dia diterima oleh kelompok kerjanya atau dimusuhi? Apakah ada kesempatan baginya untuk bergaul serta bertukar fikiran dan perasaan dengan teman-temannya? Atau, apakah kebutuhan untuk merasa berharga dapat dipenuhi. Apakah tugas-tugasnya terasa hina, sehingga tiap tindakkannya membawa perang batin di dalam dirinya, dan merasa bahwa harga dirinya harus dikorbankan ? 

8. Kepribadian. 
Kepribadian yang rapuh, misalnya : dengan emosi tidak stabil dan mudah tersinggung, akan mengganggu aktivitasnya selama ia bekerja. Kepribadian yang rapuh merupakan sesuatu yang negative, dan sebab-sebabnya terletak pada diri kita sendiri. Pribadi yang berhasil yaitu bila seseorang sanggup berhubungan secara baik serta dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya serta kenyataan hidup secara wajar dan efektif, juga dapat memperoleh rasa puas atas hasil yang telah dicapainya. Bila seseorang mempunyai kepribadian yang kuat dan integritas tingi, besar kemungkinannya ia tidak akan mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan pada umumnya, dan khususnya dengan kerjanya. 

9. Cita-cita dan tujuan dalam bekerja. 
Cita-cita, tujuan dan system nilai seseorang saling berhubungan satu dengan yang lain. Jika cita-cita dan tujuan seseroang sudah sesuai dengan system nilainya, maka di dalam mencapainya pun disertai dengan usaha yang sungguh-sungguh dan tekad tinggi. Keadaan ini termanifestasi dalam suasana kerja. Dan jika pekerjaan seseorang sudah merupakan cita-cita dan tujuan yang sesuai dengan system nilainya, maka ia akan bekerja dengan bersungguh-sungguh, rajin, tanpa disertai dengan suatu perasaan yang tertekan, yang sangat beguna bagi kesuksesan kerjanya. 

Faktor-faktor dari luar diri sendiri (eksteren) : 

1. Lingkungan keluarga (rumah). 
Keadaan keluarga dapat mempengaruhi berhasil tidaknya seseorang yang sedang bekerja. Ketegangan dalam kehidupan keluarga dapat menurunkan gairah kerja, juga pekerjaan yang dikerjakan akan terganggu. Lingkungan keluarga (rumah) yang penuh dengan keharmonisan dan kebahagiaan,besar sekali pengaruhnya terhadap para pekerja; dan hal tersebut perlu dimiliki oleh setiap pekerja. Keadaan seperti itu sangat menunjang seseorang untuk bekerja dengan berhasil, dan menjadikan seseorang berfungsi secara optimal; juga mengarahkan tenaganya secara lebih efisien dalam bekerja. Anggota keluarga yang mendorong dan mendukung kerja seseorang turut membantu secara mental dan spiritual untuk berhasilnya seseorang dalam kariernya. 

2. Lingkungan tempat bekerja. 
Situasi kerja sangat mempengaruhi keadaan diri pekerja, karena setiap kali seseorang bekerja maka iapun harus memasuki situasi kerja tersebut. Tentu saja situasi yang menyenangkan akan mendorong seseorang untuk bekerja dengan senang dan giat. Sebaliknya, tidak jarang timbul kekecewaan dan kegagalan yang diderita pekerja karena terdapat ketegangan di dalam lingkungan kerja. Ada bermacam-macam lingkungan tempat bekerja atau situasi kerja, yaitu : 

a. Job security (rasa aman dalam pekerjaannya). 
Artinya pekerjaan yang dipegang oleh seseorang merupakan pekerjaan yang aman dan tetap. Jadi bukan merupakan pekerjaan yang mudah dipindah-pindah, digeser atau diganti yang dapat menyebabkan seseorang bekerja dalam suasana yang kurang tenang dan kurang bergairah dalam bekerja. Alangkah baiknya jika seseorang dapat bekerja secara aman dan tetap, sehingga makin lama kemampuan dan ketrampilan dalam melaksanakan pekerjaannya akan makin tumbuh dan berkembang. 

b. Kesempatan untuk mendapatkan kemajuan. 
Suatu pekerjaan atau jabatan yang sangat kurang memberi kesempatan untuk maju, akan kurang menarik dan kurang pula menimbulkan gairah kerja bagi para pekerjanya. Setiap orang menginginkan agar dirinya dapat berhasil, lebih maju dan berkembang. Oleh karena itu kesempatan mendapatkan kemajuan dalam suatu lapangan pekerjaan menunjang seseorang untuk lebih giat berusaha agar dapat bekerja dengan sebaik-baiknya. 

c. Rekan sekerja 
Hubungan sosial yang ada di antara rekan sekerja berpengaruh pada proses kerja seseorang. Ketegangan yang timbul dalam suasana kerja yang terjadi di antara rekan sekerja, akan menimbulkan gairah kerja yang menurun atau kurang baik. Ketegangan atau ketidakcocokan dalam lingkungan rekan sekerja amat mudah menimbulkan rasa keseganan seseorang untuk masuk (datang) ke tempat di mana ia bekerja. Sebaliknya lingkungan rekan sekerja yang menyenangkan akan menimbulkan gairah kerja yang tinggi, sehingga seseorang dapat berhasil dalam kerjanya. 

d. Hubungan dengan pimpinan. 
Pimpinan yang bijaksana selalu didambakan oleh setiap pegawai. Namun kenyataannya tidak jarang terjadi timbul kesalah-fahaman antara pekerja dan pimpinan. Keadaan sedemikian ini dapat mengganggu cara kerja seseorang. Hubungan yang baik, yang cukup demokratis dan saling menghargai merupakan hubungan yang ideal bagi pekerja (karyawan), sehingga dalam melaksanakan tugas-tugasnya ia dapat merasakan ketenangan dan keamanan. 

e. Gaji 
Gaji memang merupakan suatu perangsang bagi seseorang untuk bekerja dengan baik dan rajin. Maka gaji adalah satu hal yang penting yang dicari seseorang dalam bekerja. Umumnya orang berpendapat, bahwa gaji yang tinggi akan mendorong seseorang untuk bekerja dengan sukses. Memang pada umumnya seseorang merasa senang dengan gaji yang tinggi; tetapi belum tentu gaji yang tinggi itu menimbulkan suatu kepuasan dalam bekerja. Selama gaji yang diterimanya dianggap cukup untuk membiayai kebutuhan keluarganya sehari-hari, ditambah dengan harapan akan mendapat kepuasan psikologis yang dapat menenteramkan dirinya, maka kemungkinan besar seseorang akan tetap mempertahankan pekerjaannya, baik sebagai pegawai rendahan ataupun sebagai manajer yang tinggi. Tetapi bila gaji yang diterima itu dianggap tidak cukup, apalagi sampai mengganggu ketenteraman jiwanya, maka orang akan berfikir untuk mencari pekerjaan yang lain. Padahal belum tentu pekerjaan yang baru itu akan memberikan keberhasilan pada dirinya. Lingkungan atau situasi kerja memang mempengaruhi tetapi bukan yang menentukan. Kitalah yang harus menentukan situasi itu seperti yang kita inginkan, dan kalau hal ini tidak ada, maka kitalah yang harus menciptakannya. 

Kesimpulan. 


Keberhasilan seseorang bukan ditentukan oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh lingkungannya di mana ia berada. Tidak ada sesuatu yang dapat berhasil dengan baik, yang diperoleh tanpa usaha yang sungguh-sungguh. Oleh karena itu tanamkan pada diri kita masing-masing, bahwa keberhasilan membutuhkan usaha yang keras dan kemampuan yang kuat. Memang ketakutan akan kegagalan adalah hal yang wajar bagi seseorang yang normal, selama tidak melampaui batas ketakutan yang wajar. Kegagalan dalam mencapai keberhasilan kerja tidak semata-mata disebabkan oleh kepandaian akan ilmu, tetapi juga disebabkan oleh banyak hal-hal yang lain. Untuk dapat berhasil dengan baik, seseorang perlu memiliki juga rasa kepercayaan diri sendiri. Seseorang yang mempunyai kepercayaan terhadap diri sendiri akan bekerja dengan tekun, serta mengutamakan kesibukan yang bermanfaat. Pekerjaan akan lebih berarti bila seseorang dapat lihat dan menemukan dirinya di sana. Di samping itu perasaan senang dan bahagia menolongnya untuk bekerja lebih gairah dan giat mencapai keberhasilan. Setelah kita melihat beberapa faktor yang ikut menentukan keberhasilan kerja seperti yang telah dijelaskan di atas, sudah barang tentu tidak mudah untuk memenuhi semua faktor secara sempurna. Tetapi setidak-tidaknya jika kita ingin berhasil dalam karier (kerja), maka alangkah baiknya jika fakor-faktor tersebut diperhatikan. 


Lampiran








No comments:

Post a Comment